Learning @nything
no pain no gain : berjuanglah, kisanak…

Sore yang Aneh

Sore itu, kami mengendarai motor dari kunjungan lebaran di rumah salah seorang family kami di daerah Arjasa, Jember. Sinar sore mentari Oktober menemani kami berkendara. Waktu itu sekitar jam-jam 3 atau setengah 4 sore, tetapi sinar matahari masih cukup terik bersinar dari barat.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba sinar mentari menjadi sangat terik dan terasa silau. Aku terganggu dengan sinar menyilaukan ini dan membuat pandanganku ke jalan di depan menjadi kacau. Sekilas terkadang nampak mobil mendahului motorku kemudian menghilang di tengah kesilauan ini. Spontan aku memperlambat laju motor. Istriku juga sedikit berteriak dari belakang agar aku memperlambat motorku. Pandanganku masih silau, teringat ketika kita diterpa silau oleh lampu mobil yang menyalakan lampu jauhnya di depan kita. Keadaan ini berlangsung kira-kira sepuluh hingga lima belas menitan.

Setelah itu, tiba-tiba sinar mentari itu pudar karena disisi kanan jalan, ada sebuah bukit yang menghalanginya. Sejenak aku bersyukur karena telah keluar dari situasi yang menyulitkan. Sekarang kami mulai tenang melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Tetapi pada sebuah lokasi, aku agak heran, karena lokasi dan jalan yang aku lewati ini terasa asing dan rasanya aku salah jalan. Ketika aku tanya istriku, dia juga tidak sadar kalau arah jalan ini terasa asing. Kami tidak mengenal lokasi dan jalan ini tidak tahu mengarah kemana. Belum sempat keheranan ini teratasi, tiba-tiba didepan kami ada sebuah pemandangan yang mengejutkan.

Pemandangan di sisi kiri jalan adalah sebuah pantai atau danau, aku juga tidak yakin. Mungkin semacam teluk, yang jelas di sana terdapat beberapa perahu kecil seperti layaknya pemandangan di sebuah pesisir. Keheranan ini jelas bercampur senang, karena jujur aku sudah lama tidak berlibur ke pantai. Kami tetap melaju, dan sekarang di depan kami terdapat tikungan ke kanan. Sebenarnya bukan tikungan, karena kalau kita lurus, masih ada sebuah jalan kecil. Tepat di ujung tikungan terdapat papan nama bertuliskan “Selamat Datang” dan disana kulihat beberapa buah motor dan mobil parkir.

Aku berpikir, mungkin di sana juga harus berhenti sambil sejenak istirahat. Zaki, sikecil yang sejak tadi tertidur, pasti akan senang berlarian di pasir pantai. Setelah memasuki area parkir, kami sadar kalau daerah ini adalah area tempat pariwisata berupa danau dengan beberapa lokasi bermain untuk anak-anak dan keluarga.

Istriku langsung membangunkan sikecil zaki dan langsung membawanya ke tempat bermain anak. Zaki ternyata memilih naik kereta api mungil yang mengitari danau. Sedangkan aku memilih berjalan-jalan mengamati lokasi sekitar.

Lokasi wisata ini bisa dinilai tidak terlalu dirawat dengan baik. Beberapa papan nama dan peta penunjuk arah catnya sudah memudar dan hampir tidak terbaca lagi. Aku juga tidak mendapatkan nama area wisata ini. Aku juga tidak tahu ini ada di daerah mana. Nah. Area parkir juga tinggal 1 buah mobil dan 3 sepeda motor termasuk motor kami. Warung-warung penjual makanan dan souvenir juga tampak tutup. Mungkin hari telah sore dan sebentar lagi akan tutup. Beberapa orang tampak nongkrong di pintu gerbang. Dari obrolannya, aku bisa menebak, logat mereka adalah logat osing. Logat asli daerah banyuwangi-an. Seperti bahasa Jawa namun beda. Kalau di Jawa Barat, seperti logat Cirebon mungkin. Aku menerka-nerka, mungkin daerah ini daerah Jember bagian timur atau sudah masuk Banyuwangi. Yang ada dalam pikiranku saat ini adalah kami tersesat dan sekarang berada di lokasi wisata.

Insting memotretku tiba-tiba muncul. Di sisi danau terdapat tebing yang cukup terjal dan sangat layak untuk diabadikan. Langsung aku take picture dengan hp Samsung z170-ku. Sekali, dua kali dan entah sudah berapa view aku ambil. Aku juga menuju area bermain anak, dimana sikecil zaki dan ibunya bermain. Aku juga ambil picture mereka. Baru sekali aku take, tiba-tiba handphoneku restart ke menu awal. Ku coba sekali lagi, tapi tetap sama. Karena penasaran aku buka menu ‘my file’, dimana tersimpan file gambar hasil jepretan kamera.

Alangkah kagetnya, gambar-gambar yang tadi aku ambil dari view tebing di sisi danau serta semak belukar di bawahnya dan beberapa foto terakhir sikecil zaki, semuanya menampakkan gambar seekor monyet. Ya, monyet. Naluriku merasakan ada yang tidak beres di tempat ini. Aku merasakan bulu kudukku berdiri. Ayah…!!

Itu suara istriku. Aku langsung menoleh dan menghampiri istriku
“Mana Zaki, dek?” Begitu aku memanggil istriku.
“Zaki tidak mau berhenti, minta naek kereta terus”, jawabnya.

Kulihat memang Zaki sangat enjoy duduk di kereta itu. Aku lihat, ada yang aneh juga dengan kereta ini. Kereta mainan ini sangat sederhana dan hanya terbuat dari beberapa kursi sofa yang dijejer-jejer. Kereta api yang aneh. Tapi aku tidak berlama-lama dengan kereta ini. Aku langsung memanggil Zaki.

“Putranya sangat senang Pak main disini”, terdengar suara mengagetkanku.
Seorang wanita muda penjaga karcis kereta ini benar-benar membuatku kaget.
“Dari tadi main sendiri kok, Ibu tidak menemani”, lanjutnya.
“Maaf mbak, sudah sore, kami harus pulang. Permisi ya..”
Langsung aku menuju Zaki dan menggendongnya. Kemudian sejenak, aku melihat istriku sedikit bersitegang dengan seorang wanita. Segera aku hampiri mereka.

“Ada apa dek?Ayok pulang. Sudah dibayar keretanya?” Biasanya memang tugas istriku yang membayar parkir, mainan dan sebagainya.
Setengah berbisik, istriku berkata, kalau mereka meminta uang ongkos naik kereta mainan ini sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Ah! Tidak mungkin. Ngawur. Batinku.

“Berapa bu kami harus membayar”, kucoba tanyakan lagi pada wanita setengah tua ini. Wanita ini juga tampak aneh karena memakai pakaian yang tidak biasa dipakai sebagai seragam seorang petugas di lokasi wisata. Dia (dan ternya beberapa wanita lainnya di tempat itu) hanya memakai kebaya dan kain sebagaimana yang dipakai nenekku di kampung. Tempat wisata macam ini. Sepertinya mereka adalah orang kampung sekitar sini yang ditugaskan menjaga dan merawat lokasi wisata. Aneh banget.

“Dua ratus lima puluh ribu, Nak”, jawabnya. Aneh lagi, dia menjawab dengan tersenyum misteri dan menampakkan barisan gigi yang sudah mulai jarang-jarang.
“Ah, mana mungkin semahal ini, bu. Dimana-mana ongkos permainan kereta bahkan karcis masuk wisata tidak ada semahal ini. Yang benar dong, Bu?” Aku mulai terpancing emosi.
“Ya, sudah. Dua ratus ribu saja”, lanjutnya menurunkan harga.
“Aduh ibu..itu juga masih jauh kemahalan.
Tiba-tiba dia menghampiri istriku dan merebut tas istriku. Brak.

Tas istriku terjatuh, karena istriku juga mempertahankan dari rebutan si wanita itu. Beberapa isinya berhamburan keluaran. Termasuk kamera digital pocket yang biasa tersimpan disana. Wanita tua itu langsung mengambilnya. Masih menggendong Zaki, aku juga berusaha merebut kamera itu.

“Ini apa-apaan lagi. Ibu, maksudnya apa nih?”Aku mulai berteriak. Dan beberapa orang rata-rata wanita di sekitar kami mulai menghampiri. Mereka menampakkan wajah yang tidak bersahabat. Semua berpenampilan kebaya dan kain aneh dan tidak jelas, karena suasana semakin sore, mendekati maghrib.
Wanita itu tidak menjawab, hanya tersenyum kecut. Aku berhasil merebut kamera dari tangannya.
“Sudah begini, saja.. Kami tidak membawa uang sebanyak itu. Ini ada lima puluh rupiah, silakan ambil. Biarkan kami pulang. Benar, ini semacam premanisme yang ingin merampok kami. Aku menyesal membawa anak dan istriku di tempat ini. Aku juga tersadar, kami memasuki lokasi dan semacam dunia aneh setelah melewati jalan dengan pandangan silau oleh sinar mentari sore. Ketika pandangan mulai jelas, kami sampai di tempat ini. Tempat yang tidak kami kenal sama sekalil. Kami juga tidak tahu nama tempat ini apa dan ada di daerah mana. Apa kami memasuki dunia ghaib?

Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Keras sekali, hingga aku terkaget setengah mati. Aku tidak kuasa menjawab panggilan itu. Hanya bunyi dering handphone yang kudengar. Entah kenapa aku tidak segera mengambil dan mengangkat panggilan itu. Suara itu semakin menggangguku. Mataku berat sekali dan sebelah tanganku terasa kesemutan.

Ayah! Ayah!
Aku membuka mata. Berat sekali.
Sekarang Zaki sudah di depan mata dengan berbalut handuk. Aroma sabun lifebuoy wangi terasa. Rambutnya basah. Dibelakangnya berdiri istriku membawa beberapa lembar pakaian.

“Sudah jam setengah lima, Yah. Jadi ke rumah Tegal Besar? Di telepon tuh, ama Om Ririt”.

Sore yang aneh. Tanganku masih kesemutan….

(Memory Idul Fitri 1429 H)

Advertisements

One Response to “Sore yang Aneh”

  1. tukeran link yukkkk


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: